My Life My Journey

It's All About My World

Laskar Pelangi (Indonesian Movie) 15/02/2009

Filed under: About Movies or Series — hifni1985 @ 4:41 am
Tags: , , ,

Dipublikasikan pertama kali di bagian Pages blog ini pada Feb 15, 2009 @ 4:41

Aku berkempatan menyaksikan film Laskar Pelangi. Sudah lama Aku ingin menonton film ini sejak disiarkannya kabar pembuatan film yang menangkat cerita novel bertajuk sama, novel yang sudah begitu menggugah hatiku. Novel ini sarat dengan makna dan hikmah yang dapat kurenungi. Sebenarnya aku bukanlah penyuka novel, sehingga kalau diminta memberi saran tentang novel yang bagus, aku akan bingung. Namun aku penyuka film, aku bisa menyebutkan banyak judul film yang sudah kutonton, dan bisa menilai mana film bagus yang layak untuk ditonton. Dari dulu, aku mampu merasakan sense yang penting dalam sebuah film, yang mampu menambah daya tarik film di mata penonton.

Secara umum, film Laskar Pelangi telah mengangkat cerita novel Laskar Pelangi dengan baik. Gambaran adegan demi adegan digarap teliti. Yah, memang ada adegan yang disederhanakan, namun itu dilakukan agar lebih mudah dicerna, terutama bagi penonton anak-anak. Seperti adegan saat Lintang, Ikal, dan Mahar ikut lomba cerdas cermat. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh juri, disesuaikan dengan level kecerdasan anak SD. Hal tersebut berpengaruh pada kurang menonjolnya sosok Lintang yang jenius, tetapi tidak begitu berpengaruh pada keseluruhan cerita.

Satu hal yang kurasa kurang pada film ini terdapat pada satu adegan penting, yaitu perpisahan Lintang dengan guru dan teman-temannya. Adegan ini adalah adegan penting karena menjadi closing cerita team Laskar Pelangi di masa kecil. Timing yang lebih lama diperlukan untuk memancing keharuan penonton, sehingga meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.

Aku sudah memikirkan bagaimana cara memberi sense pada adegan ini. Lintang berdiri di lapangan sekolah, dihadapan teman-temannya dan gurunya, Bu Muslimah. Mereka diam dan merasa sedih karna Lintang tidak dapat bersekolah lagi. Lintang pun terdiam karna tidak mampu menyampaikan kata-kata perpisahan. Ia menunduk lalu memandang teman-temannya, menunduk lalu memandang lagi, bergantian pada teman-temannya yang sudah terisak-isak tertahan. Lintang menghampiri temannya satu per satu untuk bersalaman. Terakhir menghampiri Bu Muslimah, Bu Muslimah menangis dan memeluk Lintang sebentar. Lintang berjalan, kembali ke depan teman-temannya. Ia menghapus berkas air matanya, lalu berjalan menuju sepedanya, menggiring sepedanya beberapa langkah, menoleh sebentar pada teman-temannya. Lintang memandang sekolahnya untuk terakhir kali. Ia beranjak menaiki sepedanya, lalu mengayuh tanpa pernah menoleh lagi. Tangisan teman-teman Lintang tak terbendung lagi melihat kepergian Lintang.

Adegan ini adalah adegan kunci yang harus benar-benar diperhatikan oleh sineas karena bukan hanya sekedar adegan penutup. Adegan ini memberi makna, betapa seorang anak, jenius sekalipun, harus berhenti mengenyam pendidikan karna tuntutan ekonomi keluarga setelah kematian ayahnya. Jika adegan ini bisa membawa simpati penonton, maka sebagian penonton akan meninggalkan bioskop dengan suatu tekad untuk berjuang agar anak-anak seperti Lintang bisa terus sekolah. Sebagian lagi paling tidak merasa bersyukur dapat mengenyam pendidikan dan bertekad untuk bersekolah dengan baik sebagai bentuk penghargaan akan kesempatan yang tidak semua anak bisa mendapatkannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s