My Life My Journey

It's All About My World

Peserta Aneh di Pelatihan Sensus Penduduk 2010 13/04/2010

Filed under: Jobs — hifni1985 @ 4:04 pm
Tags: , , , , , , , ,


 
 
Ditulis Pertama Kali di Note Facebook Pada 13 April 2010.

Di gelombang terakhir Pelatihan Sensus Penduduk 2010, aku mengajar sebuah kelas di salah satu kecamatan. Aku diberi tahu oleh KSK, brdasarkan pengalaman nya mengenal salah satu peserta di kelasku bahwa seorang peserta tersebut adalah seorang yg sok tau, n kurang perhatian, suka nyeletuk, takutnya nanti akan mbuat phatian peserta lain tralihkan, suka btanya hal yg sbenarnya tdk perlu ato mperpanjang masalah yg ditanyakan.
Oh, begitukah? Ok, ini akan jd bahan bagi ku. Aku akan mengatasinya.
Mulai hari pertama aku mengajar, aku sudah mulai melihat indikasi seperti yg dikatakan padaku.
Kalau dia btanya yg mengada2, kukembalikan pd materi. Kalau dia btanya yg memang ada, kujelaskan sesuai konsep. Kalau sudah jelas, dia masih memperpanjang, ku pertegas dan ku kembali ke materi. Apalagi peserta lain sdh keliatan gerah, dan bilang, lanjut bu, lanjut… Hehe..
Suka sok tau dan kurang memperhatikan. Sering kudapati, dia tidak melihat penjelasanku, tidak membuka bukunya, atau bahkan ada saat dia menjelaskan sesuatu ke sebelahnya saat ku tengah menerangkan. Kuingatkan dia.

Perhatian nya ya pak.
Bukunya dibuka ya pak.
Tolong liat ke depan ya pak.
Sebentar ya pak, tolong diperhatikan.

KSK untuk kec ini sepertinya sudah gerah dan melapor pada pak sekcam agar bapak tadi ditegur karena takutnya dia akan mengganggu peserta yg lainnya. Jadilah pak sekcam turun tangan. Kalau ku sendiri sih, ga ambil pusing, karna ku merasa bisa menanganinya, tp ya demi kebaikan peserta, ga apalah kalo dia ditegur.
Pelatihan terus berjalan. Hari ketiga, setelah Try Out, tibalah saat pengarahan. Bu Dyah menyempatkan hadir dari BPS Prop. Ini yang menarik. Saat sesi tanya jawab, si Bapak di kelasku yg jadi topik pembicaraan ini, mengangkat tangan, dengan semangat ia bercerita, yg ternyata adalah kritikan buatku. Ia bilang, bahwa aku tidak mengajar dengan baik, bahwa ia mewakili teman2, bnyk yg tdk mengerti, bahwa aku bnyk menggunakan bhs yg ga bs dcerna oleh yg berpendidikan rendah.
Tanggapanku?
Aku sih biasa saja. Percaya, ga percaya, sehari sebelumnya, aku sudah punya firasat dia akan melakukan hal itu hari ini. Mempermalukanku di dpn umum. Apakah aku malu? Oh, tentu tidak. Karna aku tidak merasa melakukan yg ia tuduhkan itu.
Pertama, aku merasa sudah mengajar dengan baik. Karna ini gel ketiga, aku sudah melakukan perbaikan dan memikirkan strategi bagaimana supaya materi bisa terserap dg lbh baik oleh peserta. Aku memperbanyak uji coba ato praktek.
Kedua, masalah ia banyak tidak mengerti. Sebagian karena ia banyak tidak memperhatikan. Seringkali kutegur, nanti mangkir lagi. Pernah juga telat masuk saat pelatihan dimulai. Masalah ia mewakili teman nya, hmm, aku ga yakin hal itu, karna aku melihat ia jarang tuh berdiskusi dg peserta lainnya.
Ketiga, aku bnyk menggunakan istilah yg tdk dmengerti orang.
(Oh My God, where have you been? Are you sure, you’re in my class?
Dari mana aja pak? Apa bapak yakin, bapak di kelas saya?)
Hehehe, yaelah, justru aku bnyk mggunakan bhs daerah, pak. Aku mencontohkan cara bertanya dlm bhs daerah sehari2. Aku mengingatkan bhw di kuesioner, jangan dibaca persis seperti itu. Aku mempraktekkan dg mengajak bergiliran peserta2 di kelas. Supaya mereka yg pendidikan nya kurang tadi, bisa lebih memahami.
Jadi, tuduhan yang sangat tidak mendasar kan?
Apakah aku marah?
Apakah aku melakukan pembelaan?
Enggak.
Jika memang diberi kesempatan, aku akan menyampaikan seadanya pendapatku dengan cara yg baik. Tapi kalau pun tidak, tak apa, karna aku merasa Pernyataan nya itu dilatarbelakangi Pembalasan Dendam Karna Sakit Hati. Bukan keluhan yg sejujurnya.
Di luar dugaan, Bapak yang bertanya kedua, yg juga dari kelasku, setelah bertanya, melakukan pembelaan terhadapku.
Ia bilang bahwa aku mengajar dengan baik. Ia bisa mengerti setelah kuajarkan. Bahwa aku banyak memberi contoh dan mengajak praktek, bahkan menawarkan pada peserta untuk turut serta praktek ke depan. Yang melihat juga jadi lebih mengerti. Bahwa aku menjawab pertanyaan mereka dengan jelas. Dan bahwa ia percaya teman2 yang lain juga mengerti dan merasa hal yg sama seperti dia. Dan disambut dengan tepuk tangan dari peserta2 lain dari kelasku.
Aku tersenyum. Kurasa hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab.
Jika ia mencoba untuk menjatuhkanku dg menjelekkan diriku di depan petinggi dari kab ato prop. Well, anda salah teman. Justru aib anda yg jstru tbongkar. Dan anda salah, kalo mengira itu akan merugikan saya.
Sejak awal aku mengajar, aku tidak melakukan nya untuk pamrih. Aku hanya berusaha sebaik mungkin supaya peserta mengerti. Dilihat, tak dilihat, sama saja, karna bukan itu yg penting. Tapi masalah tanggung jawab. Aku ingin membuat mereka paham dan sensus penduduk ini berhasil. Itu saja. Ini tugasku sebagai Inda.
Yah, itulah sekelumit kisah pengalamanku sebagai Inda. Jadi lebih memperkaya khazanah pemikiranku sebagai manusia biasa.
Semoga terus dan terus, aku bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin..
 
 

Disclaimer: Gambar bukan milikku.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s