My Life My Journey

It's All About My World

Lesson to Read 16/05/2012


Lesson to Read

 

Kelas 3.1 sedang dalam pelajaran matematika.

Guru          :          Ibu punya permainan untuk kalian. Disini Ibu akan beri kalian 1 soal untuk diselesaikan. Soal ini merupakan contoh soal di sebuah buku yang ada di perpustakaan. Tentunya sedikit diubah. Ibu beri waktu 30 menit. Tugas kalian hanyalah menemukan buku tersebut dan mendapatkan jawabannya. Siapa yang berhasil akan mendapat bonus nilai 10 yang akan membantu kalian saat ujian nanti. Nah, sekarang permainan dimulai.

Seluruh siswa kelas 3.1 bergegas ke perpustakaan untuk mencari buku yang dimaksud. Setelah 30 menit berlalu, mereka kembali ke kelas.

Guru          :           Bagaimana? Sudah menemukan bukunya?

Siswa 1     :           Kami sudah berbagi tugas bu, mencari di semua buku di perpustakaan.Jadi kalau ada yang menemukan bukunya, harus memberitahu semua. Tapi sayangnya buku itu tidak berhasil kami temukan bu.

Guru          :           Aneh, padahal ada koq bukunya di perpustakaan, apa dipinjem ya… <Tersenyum>

Siswa 2     :           Yaaa… Ibu. Jadi kami tidak dapat bonus nilai ya.

Guru          :           Tidak apa-apa. Sekarang kalian keluarkan kertas dan coba jawab soal tersebut. Ibu beri waktu 10 menit. Setelah selesai, kumpulkan ke depan.

Sepuluh menit telah berlalu, murid-murid mengumpulkan hasil pekerjaannya ke depan dan Ibu Guru mulai memeriksa satu persatu.

Guru          :           Hmm, ternyata dari 40 siswa yang ada disini, tidak kurang dari 40% bisa menjawab dengan benar.

Siswa 3 berbisik dengan teman sebangkunya.

Siswa 3     :           Berapa orang tuh?

Siswa 4     :           16 orang, ada 16 orang yang bisa jawab. Lu bisa jawab?

Siswa 3     :           Bisa sih, tapi ga tau bener apa ga.

Siswa 4     :           Ah elu, coba gue nyontek tadi.

Guru          :           Kalian tidak ada yang bisa menemukan bukunya, tapi bisa menjawab soal ini, kenapa?

Para siswa berbisik-bisik.

Guru          :           Karena di antara 40 siswa, 16 orang ini adalah yang benar-benar membaca. Saat kalian membuka setiap buku yang ada di perpustakaan, kalian membaca untuk mencari jawabannya. Meski kalian tidak menemukan jwaban soal, apa yang sudah kalian baca, sudah membantu kalian untuk menyelesaikan soal.

Siswa 5     :           Yah, gue ga baca, Cuma langsung llihat contoh soalnya, sama apa enggak.

Siswa 6     :           Hahaha… Iya. aku juga.

Guru melanjutkan.

Guru          :           Pelajaran yang bisa kalian petik adalah yang terpenting dalam mencapai tujuan bukanlah hasil melainkan proses. Proses menemukan jawaban, Proses perjuangan, Proses dalam meraih kesuksesan.

Siswa-siswa merenung. Bu Guru mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan mengangkatnya tinggi.

Guru          :           Buku ini cuma ada satu-satunya di perpustakaan.

Siswa         :           Whaaa, Ibu curang…

Guru          :           Hmm… <Tersenyum> Jangan hanya bertumpu pada hasil yang ingin kalian capai. Tapi lakukan prosesnya dan nikmati. Saat kalian melompati semua proses dan langsung menuju hasil, kalian akan kecewa jika tidak menemukan apa yang kalian inginkan. Dan yang lebih penting lagi, kalian sudah melewatkan semua kesenangan yang ada dalam proses meraih hasil.

Siswa-siswa mendengarkan dengan serius.

Guru          :           Jadi, membaca itu berguna kan? Hehe. Okay, begitu saja, 16 orang tadi akan mendapat bonus nilai. Kelas bubar.

Setelah kelas bubar, siswa-siswa masih memperbincangkan pelajaran yang tadi mereka terima.

Siswa 5     :           Kita kayak belajar Filosofi bukannya Matematika.

Siswa 1     :           Tapi di situlah letak menyenangkannya ya.

Siswa 2     :           Ibu itu cerdas. Dengan cara ini dia sudah membuat kita membaca dan dan menyadari pentingnya membaca.

Siswa 4     :           Kalo kata gue, Ibu itu jenius.

Siswa 6     :           Ah, mulai sekarang aku mau baca ah!

Di ruang Guru.

Guru Bahasa Inggris            :       Tadi rame banget bu di perpustakaan oleh siswa kelas Ibu. Ada tugas ya?

Guru Matematika                :       Iya, Bu.

Guru Bahasa Inggris            :       Ah, anak-anak jaman sekarang, kalau ada tugas aja, baru ke perpustakaan!

Guru Matematika                :       <tersenyum>

Sejak hari itu, perpustakaan selalu ramai oleh siswa kelas 3. Mereka bukan hanya membaca buku Matematika, tapi juga banyak buku lainnya.

 

Rasa Kejujuran Pada Masakan 05/05/2012

Filed under: Sketch Story — hifni1985 @ 12:07 pm
Tags: , , , , , , , , , ,

Terinspirasi oleh Iklan Mi Sedap Rasa Soto

Di dalam rumah, seorang istri duduk di ruang tamu sambil memikirkan tentang sesuatu.

Suamiku sangat jujur. Saat aku mulai belajar masak, ia mencicipi setiap masakan yang kubuat, dan ia akan berkomentar jujur tentang masakanku. “kayaknya kurang garam deh.”
“kepahitan, palanya terlalu banyak.”
“sayurnya terlalu lembek lho.”
komentar yang memang sempat membuatku kecewa, tapi aku bisa menahan rasa itu dan menyadari bahwa ia sudah jujur padaku dan itu membuatku senang. Ia mendukungku untuk terus memperbaiki diri termasuk dalam soal masak-memasak ini. Ia kemudian akan tersenyum padaku dan dengan pandangan matanya aku tau ia ingin berkata,
‘terus berjuang ya, pasti lain kali bisa lebih baik’

saat kami tengah duduk berdua dan berbicara dari hati ke hati, rutinitas yang biasa kami lakukan. Ia pernah menyinggung tentang mengapa ia selalu berkomentar jujur tentang masakanku.
”kamu tau kenapa saat mencicipi masakanmu aku selalu bilang apa adanya?”
aku menatapnya dengan penuh rasa ingin tau, ”kenapa?”
”karena aku percaya kejujuranku tak akan menyakitimu dan justru jika saat itu aku berpura-pura, itu akan menyakitimu, pertama karena aku sudah membohongimu, kedua karena aku tidak mendukungmu untuk menjadi lebih baik, dan ketiga, karena aku sudah percaya bahwa cintamu kepadaku akan rusak jika aku tidak memberimu pujian palsu.”
”ketahuilah, cintaku padamu tak akan berubah, hanya karena istriku ini belum bisa menyajikan masakan yang lezat. Aku menghargai usahamu dan bukan hasilnya.”
aku tersenyum, aku merasa sangat bahagia memiliki suami seperti dirinya. Dan aku sangat bersyukur akan ikatan cinta kami yang tumbuh semakin kuat.

 

Rasa Cinta

Filed under: Sketch Story — hifni1985 @ 12:04 pm
Tags: , , , , ,

Pada musim gugur, angin berhembus membawa daun berguguran. Di sebuah bangku taman di halaman dalam wilayah kampus, seorang gadis duduk sambil menulis di sebuah buku sambil sesekali memandang ruang hampa dengan senyum di wajah dan mata yang bersinar gembira.

’Pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini.’
’Aku orang yang pemalu, dia orang yang sangat ramah.’
’Dulu aku pernah berkata, aku tidak akan mencintai seseorang yang tidak mencintaiku. Namun sekarang, aku tidak bisa menahan diri untuk mencintainya.’
’Aku sadar diri, aku tak pernah menyalahartikan perhatiannya. Ia baik terhadap setiap orang di sekitarnya.’
’Namun aku tak bisa menahan rasa ini.’
’Kala ia datang, aku berdebar.’
’Kala ia menghampiri, aku salah tingkah.’
’Kala ia menyapa, aku begitu bahagia.’
’Kala ia bercerita tentang dirinya, aku begitu memperhatikan, seolah ceritanya sesuatu yang sangat menarik perhatianku. Tak satupun kata yang dia ucapkan terlewat oleh pendengaranku.’
’Kala ia berucap dengan penuh semangat, aku ikut terbawa suasana.’
’Kala ia melontarkan lelucon, aku instan tertawa tanpa sempat berpikir apakah lucu atau tidak.’
’Kala ia memujiku, aku rasanya begitu melambung.’
‘Aku ingin tampil tanpa cela di hadapannya.’
‘Inikah Rasanya Cinta’

 

Poligami Dari Jendela Hati Seorang Wanita

Filed under: Sketch Story — hifni1985 @ 12:00 pm
Tags: , , , , , , , , ,

Dibalik dinding yang dingin terdengarlah percakapan yang mulai memanas antara dua insan yang dahulu telah berjanji akan bersama, setia dalam suka dan duka…

”aku tahu poligami memang diizinkan dalam islam tapi aku tak bisa. Jika kau memang mencintainya, maka biarkan aku pergi. Ceraikan aku.”

”aku tidak ingin menceraikanmu. Aku mencintaimu dan tetap mencintaimu. Hanya saja, aku tidak dapat menahan gejolak perasaan ini. Aku mencintainya. Aku tidak ingin berbuat dosa dengan mencintainya di luar pernikahan. Karena itu, aku ingin menikahinya.”

”aku tidak bisa menahanmu mencintainya. Menikahlah jika kau ingin menikah tapi aku tak bisa menerimanya. Bagiku, hanya boleh ada 1 cinta dalam biduk rumah tangga. Jika kau menginginkan cinta yang lain, maka lepaskan cinta ini.”

”kau tahu benar bahwa Allah membenci perceraian. Bagaimana bisa kau bilang ingin bercerai.”

”aku tau. Tapi aku tak sanggup jika Allah membenciku”

”apa maksudmu?”

”aku… aku akan hidup dengan rasa dengki, iri, dan cemburu. Perasaan benci pada dirinya yang telah merebut sebagian cintamu dari diriku. Aku tidak akan sanggup berpikir jernih. Hatiku akan menjadi keruh. Aku tidak ingin hidup seperti itu. Aku tidak ingin menjadi jahat.”

”aku akan berusaha bersikap adil”

”tidak… ini bukan masalah kau bisa bersikap adil atau tidak. Masalahnya ada padaku. Aku tidak sanggup berbagi cinta. Mungkin aku egois. Aku hanya ingin kau hanya mencintai 1 wanita, yaitu aku. Dan selama ini aku pun hanya mencintaimu. Namun, (terdiam sebentar) ternyata itu tak cukup bagimu. Aku bisa apa… (berurai air mata) ceraikan aku! (sambil menatap tajam) dan… berbahagialah…” (berlalu)

(menatap istrinya dengan perasaan berkecamuk, gundah, merasa bersalah, sedih, takut kehilangan, menyesal. Tertunduk lesu, ia duduk di sofa)

Dia tahu istrinya adalah seseorang yang keras. Jika sudah memutuskan sesuatu, takkan mudah untuk mengubahnya.
’apa yang harus kulakukan?’

 

 
%d bloggers like this: